Widget HTML #1

Noken Papua (2012): Warisan Budaya Dunia Tak Benda

Noken Papua (2012)


Boedaja - Pada kesempatan kali ini Admin akan membagikan informasi mengenai Noken Papua (2012): Warisan Budaya Dunia Tak Benda.

Noken ditetapkan sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO pada sidang Komite Intergovernmental Committee (IGC) ke-7 di Paris Prancis, 3-7 September 2012.

Terdaftar tahun 2012 di dalam Urgent Safeguarding ListNoken adalah tas anyaman buatan tangan dari serat kayu atau daun oleh masyarakat Papua dan Papua Barat di Indonesia. 

Pengusulan dilakukan oleh Puslitbang Kebudayaan bersama Kemendikbud didampingi oleh Titus Pekei ahli lingkungan dan ahli Noken Papua. 

Setelah melalui proses panjang diusulkanlah Noken untuk diinskripsi sebagai ICH-UNESCO mewakili Provinsi Papua dan Papua Barat yang terbagi ke dalam 7 wilayah adat dengan ragamnya warisan budaya yang ada. 

Beberapa pihak yang berjasa dengan didaftarkannya Noken di dalam ICH UNESCO adalah sebagai berikut:

  • Yulianus (tokoh Papua Kemendikbud), 
  • Harry Waluyo (Kepala Puslitbang Kebudayaan) bersama dengan Tim administrative dan tim penelitinya, diantaranya: 
    • Teguh Harisusanto (tim administrative), 
    • Apolos (BPNB Papua dan Papua Barat), 
    • Ihya Ulumuddin, Damarjati, 
    • Bakti Utama, 
    • Dede dan Herfan (ISBI Bandung), dan 
    • Gaura Mancacaritadipura (Pakar ICH-UNESCO). 

Layaknya hasil kreasi asli budaya lokal, Noken pun memiliki manfaat praktis bagi keseharian masyarakatnya dan juga memiliki makna simbolis yang masih dipegang teguh. 

Baik laki-laki dan perempuan memanfaatkan Noken sebagai tas yang digantung di kepala untuk membawa hasil perkebunan, tangkapan hasil laut, kayu bakar, hewan kecil, bahkan berfungsi sebagai gendongan bayi. 

Tas unik ini kerap kali dibawa berbelanja dan berfungsi sebagai tas menyimpan barang-barang kebutuhan rumah tangga. 

Noken juga dapat dimanfaatkan sebagai hadiah pada acara perayaan tradisional atau persembahan dikarenakan memiliki makna perdamaian dan kesuburan yang diakui oleh 250 suku yang tersebar di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Pembuatan Noken bervariasi baik teknik maupun bahannya antar suku yang tersebar di Papua dan Papua Barat. 

Umumnya Noken berasal dari serat kulit pohon atau jenis semak tertentu. 

Tahap awal biasanya ranting atau batang pohon yang ditebang dipanaskan di atas api dan direndam dalam air. 

Serat kayu yang tersisa dikeringkan kemudian dipintal menjadi benang atau tali yang kuat, yang terkadang diwarnai dengan pewarna alami. 

Tali ini diikat dengan tangan untuk membuat kantong jaring dengan berbagai pola dan ukuran. 

Untuk dapat menguasai keahlian ini, dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dapat terasah dengan baik, diiringi dengan kesabaran, perhatian dan cita rasa artistik yang baik.


Noken Papua (2012)
Noken Papua


Tantangan ke depan adalah surutnya dan pengrajin Noken dan antusiasme masyarakat menggunakan Noken. 

Terdapat beberapa alasan. Selain dibutuhkan keahlian khusus untuk membuatnya, kurangnya kesadaran masyarakat lokal tentang pentingnya melestarikan budaya dan karya budaya lokal, lemahnya transmisi tradisional, persaingan pasar dengan tas pabrik yang dibuat secara massal, dan ketersediaan bahan baku dan akses untuk mendapatkannya. 

Semua ini memberikan pengaruh pada pergeseran nilai-nilai budaya dan manfaat Noken. 

Diharapkan dengan terdaftarnya Noken sebagai “Warisan Budaya Tak Benda yang Perlu Dijaga secara Mendesak” di UNESCO sejak 2012 baik Pemerintah bersama masyarakat dapat kembali menggalakkan pemberdayaan Noken yang telah diakui Dunia.

Demikian informasi tentang Noken Papua (2012): Warisan Budaya Dunia Tak Benda yang dapat Admin bagikan kepada Anda, semoga dapat bermanfaat.

Terima Kasih.

Post a Comment for "Noken Papua (2012): Warisan Budaya Dunia Tak Benda"